Tidak bisa disangkal. Riwayat sudah menulis dengan tinta emasnya. Jika peranan golongan muda dalam perjuangan kehidupan berbangsa serta bernegara di republik ini sering jadi penentu. Golongan muda yang selanjutnya sama dengan mahasiswa serta santri sudah memperlihatkan jati diri serta keberadaannya dalam menjaga perjalanan perjuangan berkebangsaan indonesia. Gerakan golongan muda dapat menjatuhkan kekuasaan otoriter di nusantara ini. Dari mulai kekuasaan imprealis atau otoritarianisme pemerintah indonesia sendiri. Tidak salah jika pemeo classic. Agent of change serta agent of social control tetap lekat pada golongan muda kita.

Dalam kerangka modern. Gerakan kepemudaan masih bisa kita tonton lewat organ-organ yang ada pada mahasiswa serta santri. Baik lewat organisasi intra universitas (bem. Dewan perwakilan mahasiswa. Ukm atau himpunan mahasiswa jurusan/prodi) dan lewat organisasi tambahan (omek) universitas seperti; gerakan mahasiswa islam indonesia (pmii). Pergerakan mahasiswa nasional indonesia (gmni). Perhimpunan mahasiswa katholik republik indonesia (pmkri). Himpunan mahasiswa islam (hmi). Kesatuan tindakan mahasiswa muslim indonesia (kammi). Dan organisasi-oragnisasi santri.

Lahirnya organisasi – organisasi mahasiswa ini dimulai oleh kesadaran mahasiswa pra-kemerdekaan akan keutamaan mengkonsolidasikan diri dan pentingnya mensinergikan pergerakan mahasiswa untuk menantang penganiayaan penguasa. Masa kesadaran itu mulai ada di tahun 1908. Yang dipelopori oleh dr. Wahidin sudiro husodo. Dr. Sutomo. Dr. Cipto mangunkusomo. Dengan rasio pergerakan lokal untuk perjuangkan pendidikan. Kebudayaan. Serta pertanian. Munculnya rumor pergerakannya mendekati terciptanya volksraad di tahun 1918 yang selanjutnya jadi cikal akan terciptanya boedi oetomo (bo).

Selanjutnya. Di tahun 1928 ada organisasi-organisasi gerakan yang namanya jong java. Jong ambon. Jong sumatera. Dan sebagainya. Dengan dipelopori oleh soekarno. Hatta. Moh. Yamin. J. Leimena. Serta wr. Supratman. Pergerakannya ini membuat loyalitas bersama-sama pada tanggal 1 oktober 1928 lewat kongres pemuda yang diketahui dengan sumpah pemuda. Pergerakan dengan rasio nasional ini mengutamakan perjuangannya pada perlawanan pada kolonialisme serta imprealisme yang sudah merebut hak-hak golongan pribumi pemilik resmi daerah nusantara.

Saat kemerdekaan. Gerakan golongan muda terus jadi pemicu perjuangan. Serta jadi challenggers buat penguasa lali. Pergerakan mahasiswa 66 dengan tokohnya a. Zamroni (alm) yang seorang santri. Lewat organ kepemudaan kami dapat dibuktikan dapat bersihkan indonesia dari pki serta menggulingkan kemampuan orde lama dengan tritura-nya (bubarkan pki. Membersihkan kabinet serta turunkan harga). Hal sama dilaksanakan pemuda angkatan 98 dengan 1 kata saktinya reformasi. Pergerakan mahasiswa ini dapat menjatuhkan kemampuan pemerintahan orde baru yang sudah berkuasa semasa 32 tahun lamanya.

Bisa disebutkan jika pergerakan pemuda memang memiliki kemampuan yang mengagumkan dalam mengubah kebijaksanaan pemerintah serta kancah perpolitikan kita. Serta bisa dinyatakan jika pergerakan fantastis mahasiswa semacam ini tetap tampil di indonesia untuk karena ketidakadilan penguasa serta luapan kekecewaan golongan cendekiawan muda indonesia.

Tetapi. Demikian romantisme yang menemani cara mahasiswa tidak lepas dari batu serta krikil yang mengganggu perjalanan pergerakannya. Dapat dibuktikan. Mahasiswa seolah cuman dapat menggulingkan pemerintahan saja. Kebalikannya golongan muda indonesia dengan cara kolektif belum dapat menjaga indonesia pada keadaan peralihan demokrasi. Hingga. Kesan-kesan yang ada. Jika beberapa gerakan mahasiswa tetap ditumpangi oleh kebutuhan koorporat di sekitarnya. Serta terkadang jerih payah golongan muda seringkali “diklaim” oleh barisan “reformis gadungan” serta barisan “cendekiawan tukang”. Akhirnya. Di akhir perjuangannya. Mahasiswa tetap terbenam oleh jaman atau menyengaja ditenggelamkan oleh kebutuhan koorporat tanpa ada diakui oleh pimpinan-pemimpin golongan muda.

Hadapi masalah – masalah classic ini. Karena itu dibutuhkan empowerment pangkal untuk membenahi kembali lagi pergerakan kolektif golongan muda. Berikut sebagai tanggung jawab civitas akademika dengan cara kolektif. Saat beberapa pilihan taktik pergerakan bisa dikawal oleh icon-icon pergerakan mahasiswa (baca:okp serta santri) karena itu. Penulis memiliki kepercayaan besar jika cuman ditangan pergerakan golongan mudalah warga indonesia kembali lagi bisa merasai dan nikmati kayanya nusantara. Golongan muda serta mahasiswa pada saatnya akan selekasnya ada dipermukaan dengan demikian pergerakan-gerakannya untuk mengubah situasi bangsa yang tidak demokratis serta tidak berpihak pada rakyat.

Lewat rekonstruksi serta dekonstruksi skema pergerakan serta pilihan rekanan dan ijtihad politik. Golongan muda akan selekasnya menguatkan pijakan pergerakan untuk menjaga peralihan demokrasi dinegeri ini. Keinginannya. Kedepan mahasiswa bukan hanya dapat menggulingkan pemerintahan otoriter tetapi. Golongan muda dapat menjaga masa peralihan dan dapat mengantar bangsa ini pada situasi yang lebih bagus. Bertambah demokratis. Makmur serta sejahtera lahir bathin.